KOTAMOBAGU — Ajang balap mobil dan motor yang digelar di Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, berubah menjadi tragedi maut pada Minggu, 9 Agustus 2026. Sebuah kendaraan peserta drag race mengalami insiden hingga menerjang kerumunan penonton. Sejumlah warga dikabarkan meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka-luka.
Peristiwa tersebut terjadi dalam gelaran Open Tournament TIDAR Drag Race & Drag Bike Kotamobagu Championship 2026 yang berlangsung di sirkuit nonpermanen di Jalan A.P. Mokoginta, Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara.
Ajang yang semula diharapkan menjadi tontonan olahraga otomotif justru berakhir dengan kepanikan. Kendaraan peserta yang mengalami insiden keluar dari lintasan dan menghantam warga yang berada di sekitar arena.
Korban kemudian dievakuasi ke sejumlah rumah sakit di Kota Kotamobagu, di antaranya RS Monompia dan RS Pobundayan.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun pada Selasa 8 Agustus 2026 , delapan orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 8 korban lainnya menjalani perawatan akibat luka berat maupun luka ringan.
Di RS Monompia, satu korban dilaporkan meninggal dunia, yakni Harianti Mokoginta, warga Bilalang 3 Utara. Sejumlah korban lainnya mendapat perawatan karena mengalami luka berat dan luka ringan.
Sementara di RS Pobundayan, empat korban dilaporkan meninggal dunia. Mereka yakni Lisma Mokoginta, Ali Ponamon, Risna Longkun, dan Biyo Mokoagow. Beberapa korban lainnya masih menjalani perawatan akibat luka yang mereka alami.
Duka dan Pertanyaan tentang Keselamatan
Tragedi tersebut tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan beragam pertanyaan mengenai aspek keselamatan dalam penyelenggaraan kegiatan otomotif tersebut.
Perhatian publik terutama tertuju pada sistem pengamanan penonton, posisi kerumunan terhadap lintasan, serta bagaimana antisipasi dilakukan terhadap kemungkinan kendaraan keluar dari jalur balapan.
Sejumlah komentar masyarakat di media sosial mempertanyakan penggunaan lokasi kegiatan dan sistem pembatas antara lintasan dengan penonton. Namun, berbagai komentar tersebut merupakan aspirasi masyarakat dan tidak dapat dijadikan kesimpulan mengenai pihak yang bersalah sebelum adanya hasil pemeriksaan resmi.
Pertanyaan mengenai tanggung jawab hukum dan teknis penyelenggaraan kini menjadi bagian penting yang perlu dijawab melalui pemeriksaan secara menyeluruh.
Panitia Nyatakan Siap Bertanggung Jawab
Ketua panitia, Lucky Sugeha, menyatakan pihak penyelenggara siap bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan akibat kejadian tersebut.
Keterangan yang berhasil dihimpun, panitia penyelenggara menyatakan kesediaannya menanggung biaya pengobatan para korban yang menjalani perawatan di rumah sakit.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian penting di tengah proses penanganan korban dan keluarga yang terdampak.
Meski demikian, aspek pertanggungjawaban hukum maupun penyebab teknis kecelakaan tetap membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Tragedi yang Kembali Mengingatkan Pentingnya Keselamatan
Balap kendaraan memiliki risiko tinggi karena melibatkan kendaraan dengan kecepatan tinggi dan kondisi perlombaan yang berbeda dengan berkendara di jalan umum. Karena itu, keselamatan pembalap, kru, petugas, dan terutama penonton menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan sebuah event otomotif.
Tragedi di Kotamobagu ini menjadi pengingat bahwa antusiasme masyarakat terhadap olahraga otomotif harus berjalan beriringan dengan sistem keselamatan yang memadai.
Ketika sebuah kendaraan hilang kendali, pembatas lintasan dengan penotonn jarak menjadi faktor yang sangat menentukan.
Kini, setelah korban berjatuhan, perhatian tidak hanya tertuju pada proses pemulihan para korban. Tetapi bagaimana peristiwa tersebut dapat diperiksa secara transparan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.