Perang AS–Iran Guncang Ekonomi Dunia, Harga Minyak Melonjak dan Inflasi Mengancam

Ilustrasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada ekonomi global, menampilkan bendera kedua negara, kapal perang, pesawat tempur, rudal, kilang minyak, kapal kontainer, grafik ekonomi, serta simbol kenaikan harga minyak dan gangguan perdagangan internasional.
Konflik Amerika Serikat dan Iran memicu ketidakpastian ekonomi global melalui gangguan pasokan energi di Selat Hormuz, kenaikan harga minyak, tekanan inflasi, dan meningkatnya biaya perdagangan internasional.

Kotamobagu, 16 Juni 2026 – Konflik perang antara Amerika Serikat dan Iran terus memberikan dampak yang luas  terutama pada perekonomian global. Satu diantaranya dipicu dari krisis selat Hormuz yang cukup mengganggu rantai pasokan energi dari Timur Tengah. Hal ini  telah mendorong naiknya harga minyak global, memicu  inflasi yang berujung pada melmbatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Berdasar  data terbaru yang dirilis Bank dunia, bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 telah turun menjadi 2,5%, dari tahun sebelumnya 2,9%. Bila konflik ini terus saja meluas Bank Dunia memprediksikan pertumbuhan dunia bisa  merosot hingga 1,3%.

Salah satu sebab utama kejadian ini  ialah adanya gangguan pada aktivitas di selat Hormuz, sebuah jalur rantai pasok penting dalam perdagangan minyak dunia. Penutupan atau pembatasan lalu lintas di kawasan oleh militer Iran selaku penguasa tunggal menyebabkan lonjakan harga minyak mentah Brent. Rata-rata harga jual minyak mentah tersebut berkisar US$94 per barel pada 2026, atau jauh lebih tinggi bila kita bandingkan tahun sebelumnya.

Akibat kenaikan harga minyak itu secara berurutan telah berdampak langsung pada inflasi global. Bank Dunia memproyeksikan inflasi dunia berada pada kisaran angka 4%, dan dapat melonjak secara drastis  menjadi 4,4% bila harga jual minyak mentah kembali merangkak naik ke US$115 per barel. Kondisi ini akan mendorong meningkatnya biaya produksi, transportasi, dan distribusi barang berbagai negara.

Kabar baiknya, direktur Pelaksana Kristalina Georgieva dari International Monetary Fund mengungkapkan bahwa sejauh ini ekonomi global belum memperlihatkan tanda-tanda perlambatan yang parah.

Namun kabar buruknya, IMF juga memperingatkan bahwa gangguan pasokan energi dan kenaikan harga berbagai komoditas dapat memperburuk ekonomi.  Banyak  negara-negara berkembang yang rentan terhadap inflasi pangan dan energi akan dalam posisi yang sangat sulit.

Selain sektor energi, konflik itu juga telah mengganggu aktivitas perdagangan internasional. Kenaikan biaya asuransi kapal dan risiko pengiriman di Timur Tengah telah ikut meningkatkan biaya logistik global. Akibatnya, negara-negara Asia yang selama ini banyak melakukan impor minyak dari kawasan Teluk akan kesulitan dari sisi ekonomi.

Meski demikian, pasar keuangan global mulai menunjukkan tanda-tanda optimisme saat ini. Itu bisa terjadi sesudah adanya kesepakatan damai awal antara Amerika Serikat dan Iran beberapa waktu lalu. Harga minyak Brent turun dari titik puncaknya sekitar US$118 per barel menjadi sekitar US$83 per barel.

Sementara bursa saham global telah mengalami penguatan. Namun para ekonom menilai proses normalisasi perdagangan energi dan pemulihan rantai pasok global masih membutuhkan waktu beberapa bulan ke depan.

Pos terkait