41 Inovasi Masuk Arena IGA VII Kotamobagu, 28 OPD Mulai Adu Gagasan dan Pembuktian

iga vii kota kotamobagu
foto bersama opd satpol PP bersama sekretaris kota kotamobagu

KOTAMOBAGU – Apa jadinya jika puluhan gagasan pelayanan publik harus berdiri di hadapan tim juri dan membuktikan bahwa inovasi mereka bukan sekadar nama?

Jawabannya mulai terlihat dalam Innovative Government Award (IGA) Kota Kotamobagu ke-VII Tahun 2026.

Bacaan Lainnya

Memasuki hari kedua pelaksanaan, arena IGA tidak lagi sekadar menjadi panggung untuk memperkenalkan inovasi. Gagasan mulai  mendapat ujian, program mulai dipertanyakan, dan terobosan pelayanan publik harus bisa menunjukkan manfaatnya bagi masyarakat.

IGA VII Kotamobagu resmi bergulir pada Selasa, 15 September 2026, dan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Tahun ini, sebanyak 41 peserta ambil bagian, terdiri atas 13 peserta kategori umum dan 28 peserta dari perangkat daerah.

Sebelumnya, pembukaan kegiatan ini  berlangsung di Aula Bappelitbangda Kota Kotamobagu oleh Sekretaris Daerah Kota Kotamobagu Sofyan Mokoginta, SH., ME., mewakili Wali Kota Kotamobagu.

Pesan yang disampaikan sejak awal cukup tegas: IGA tidak boleh berhenti sebagai perlombaan untuk mencari juara.

Inovasi harus benar-benar mampu mendorong peningkatan kinerja pemerintahan, mendukung pencapaian visi dan misi pembangunan daerah, sekaligus menghadirkan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat.

Aparatur pemerintah tidak lagi hanya memandang inovasi sebagai beban tambahan. Sebaliknya, inovasi harus menjadi cara baru untuk mempermudah pekerjaan, menghemat waktu dan biaya, serta memperbaiki kualitas pelayanan.

Hari Kedua, Saat Inovasi Harus Bicara

Sehari setelah pembukaan, suasana berubah. Rabu, 16 September 2026, sebanyak 28 peserta dari perangkat daerah memasuki tahapan presentasi dan wawancara di Ruang Rapat Bappelitbangda, Jalan Kampus Mogolaing.  Satu per satu  OPD Kota Kotamobagu menampikan inovasinya ke hadapan tim juri yang diketuai Prof. Herry.

Di sinilah sebuah gagasan tidak cukup hanya terdengar menarik.  Peserta harus mampu menjelaskan apa masalah yang ada, bagaimana inovasi itu penerapannya, serta manfaat apa yang dihasilkan.

Hingga laporan hari kedua diterbitkan, delapan OPD telah mengikuti tahapan presentasi dan wawancara.

Kepala Bappelitbangda Kota Kotamobagu Retna Sari Damopolii, ST., ME., mengatakan lomba inovasi tersebut menjadi wadah untuk mendorong OPD berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat sekaligus menghimpun berbagai inovasi daerah.

Dan dari ruang presentasi itu, mulai muncul gambaran bahwa inovasi yang dibawa peserta memiliki sasaran yang sangat beragam.

Dari Rumah Pasien hingga Laporan Kebakaran

Salah satu inovasi yang menarik perhatian datang dari UPTD Puskesmas Gogagoman melalui program Kurma Rigawa Gemoy. Nama programnya terdengar unik akan tetapi persoalan yang disentuh justru sangat serius.

Kurma Rigawa Gemoy merupakan akronim dari Kunjungan Rumah Penderita Gangguan Jiwa dan Gerakan Minum Obat Yuk.

Program ini menghadirkan pelayanan langsung ke rumah bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), termasuk edukasi kepada Pendamping Minum Obat yang berasal dari keluarga maupun kader kesehatan. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu pasien tetap menjalani pengobatan dan mengurangi risiko putus obat serta kekambuhan.

Dari sektor ketertiban dan kebakaran, Satpol PP dan Damkar Kota Kotamobagu menghadirkan inovasi SIAP-TERTIB berbasis aplikasi digital.

Rancang bangun aplikasi ini  bertujuan  untuk memudahkan masyarakat melaporkan gangguan ketertiban umum, kebakaran maupun kejadian nonkebakaran.

Sederhana dalam konsep, tetapi menyentuh kebutuhan yang sangat nyata: bagaimana laporan masyarakat dapat diterima dengan lebih mudah sehingga pelayanan dapat merespons lebih cepat.

Sementara itu, Inspektorat Daerah Kota Kotamobagu membawa inovasi TUNTASKAN TGR, singkatan dari Tindak Lanjut dan Selesaikan Tuntutan Ganti Rugi.

Arah inovasi tersebut untuk meningkatkan efektivitas tindak lanjut hasil pemeriksaan, terutama dalam proses penyelesaian kerugian daerah secara lebih efektif, akuntabel dan berkelanjutan.

Bukan Sekadar Adu Nama

Hasil pantauan awak media, tiga inovasi tersebut memperlihatkan satu hal penting. Inovasi pemerintahan tidak selalu berarti membuat sesuatu yang rumit.

Ada inovasi yang mendekatkan layanan kesehatan kepada pasienm,  ada yang memanfaatkan teknologi untuk membuka jalur pelaporan masyarakat serta ada pula yang membangun mekanisme untuk membantu menyelesaikan persoalan administrasi dan kerugian daerah.

Artinya, inovasi bisa lahir dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan justru di situlah tantangannya.

Sebuah inovasi baru benar terjadi  ketika ada perubahan yang terjadi sehingga masyarakat luas bisa merasakannya.

Setelah Presentasi, Saatnya Pembuktian

IGA VII Kotamobagu masih menyisakan tahapan penting. Setelah presentasi dan wawancara, peserta akan menghadapi kunjungan lapangan atau fact finding sebelum hasil tahap akhir pengumuman oleh tim juri.

Tim penilai melibatkan Prof. Dr. Herie Saksono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Anthonius Riva, SE., M.Si., dari Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kementerian Dalam Negeri, serta Sofyan Mokoginta, SH., ME., sebagai juri kehormatan.

Dengan demikian, perjalanan IGA VII Kotamobagu kini memasuki fase yang lebih menarik. 41 peserta telah membawa gagasan  dan kini pertanyaan berikutnya bukan lagi siapa yang paling pandai bercerita tentang inovasi.

Melainkan:

Seberapa besar inovasi itu benar-benar mengubah pelayanan?

Jawabannya akan terlihat ketika tim juri turun dari ruang presentasi dan melihat langsung apa sesungguhnya yang terjadi di lapangan.

Sebab pada akhirnya, inovasi terbaik bukan hanya yang mampu memukau saat presentasi, melainkan yang tetap bekerja ketika berhadapan dengan kebutuhan masyarakat.

Pos terkait